Menurut situs Kementerian Pariwisata, Candi Borobudur dikenal di seluruh dunia sebagai monumen Buddha terbesar di dunia. Dari Kemegahan arsitektur Candi Borobudur kita bisa melihat eratnya keterkaitan dengan sejarah panjang perkembangan agama Buddha di Indonesia.
![]() |
| https://pixabay.com/id/photos/borobudur-candi-indonesia-743263/ |
Candi Borobudur dianggap sebagai salah satu monumen budaya
paling berharga di Indonesia dan dunia. Sebelumnya Candi Borobudur yang
terletak di Magelang, Jawa Tengah, dipugar setelah sekian lama terbengkalai.
Berikut ikhtisar sejarah Candi Borobudur dan fakta
menariknya:
Sejarah Singkat Candi Borobudur
Candi Borobudur pertama kali dibangun pada abad ke-8 dan
ke-9 sekitar tahun 800 M pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra, menurut
dokumen sejarah.
Pada masa pemerintahan Raja Samaratungga pada tahun 825,
pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu puluhan hingga ratusan tahun
untuk diselesaikan.
Meski sudah rampung, tidak ada sumber sejarah yang
menjelaskan siapa yang membangun candi Borobudur. Alasannya adalah karena di
pulau Jawa pada waktu itu, agama Hindu dan Budha hidup berdampingan.
Dinasti Syailendra adalah keluarga Buddha Mahayana,
sedangkan di kawasan Borobudur juga terdapat Hindu Siwa.
Candi Borobudur dikatakan telah mengalami empat kali perbaikan,
menurut para arkeolog. Untuk memulai pembangunan, dataran di sekitar candi
diratakan dan tanah dipadatkan dengan batu untuk membentuk struktur piramida.
Setelah itu, konstruksi diubah dengan penyisipan langkah
persegi dan melingkar. Borobudur kemudian diberi perombakan terakhir, dengan
tangga melingkar diperpanjang dan alasnya melebar.
berabad-abad lamanya
Kemegahan Borobudur telah pudar karena pengaruh lapisan tanah dan abu vulkanik
yang menutupinya, kemudian mulai ditumbuhi pepohonan dan semak belukar hingga
menyerupai bukit.
Lalu mengapa penduduk Borobudur meninggalkannya pada saat
itu? Peristiwa tersebut dikaitkan dengan teori sejarah seperti Letusan Gunung
Merapi dan konversi kepercayaan penduduk dari agama Buddha ke Islam.
Pada tahun 1811, saat menjabat sebagai Gubernur Jenderal di pulau Jawa, Thomas Stamford Raffles membawa Candi Borobudur kembali menonjol. Ketika Raffles mengetahui tentang sebuah bangunan besar yang tersembunyi jauh di dalam hutan dekat desa Bumisegoro, ia berangkat untuk menemukannya.
Christian Cornelius, seorang insinyur Belanda kemudian diutus oleh Raffles untuk menyelidikinya.
Hingga akhir 1960-an, pemerintah Indonesia meminta bantuan
dari UNESCO untuk menyelesaikan masalah di Candi Borobudur. Karena Kabar
penemuan kembali Borobudur itu juga dibeberapa tempat terjadi kerusakan akibat malapetaka
yang ditimbulkannya.
Perbaikan Candi Borobudur membutuhkan waktu yang lama dan
biaya yang besar sebelum UNESCO menetapkannya sebagai Situs Warisan Dunia pada
tahun 1991.
Bentuk Candi Borobudur
Candi Borobudur, menurut situs Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, merupakan candi Buddha terbesar di dunia sekaligus monumen Buddha
terbesar di dunia, dengan struktur yang mencakup punden berundak yang semakin
mengecil dengan empat anak tangga di setiap arah mata angin.
![]() |
| https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Candi_borobudur.jpg |
Kamadhatu: Separuh candi yang paling bawah, yang melambangkan
dunia bawah, melambangkan perilaku manusia yang masih digoda oleh
dorongan-dorongan duniawi.
Rupadhatu: Bagian tengah candi, yang mewakili sifat
peralihan, mencerminkan perilaku orang yang sudah mulai melepaskan keinginan
duniawi tetapi masih terikat oleh kenyataan dunia.
Arupadhatu: Tingkat atas candi, yang mewakili alam yang
lebih tinggi, menampilkan elemen tak berwujud, dan berfungsi sebagai simbol
tingkat yang lepas melampaui keinginan duniawi.
sungai-sungai di sekitar Candi diperkirakan merupakan asal muasal dari Batu-batu Borobudur yang memiliki volume total 55.000 meter kubik, atau 2 juta keping batu.
Fungsi Candi Borobudur
Candi Borobudur kini berfungsi sebagai tempat ziarah umat
Buddha sedunia, untuk menuntun manusia meninggalkan nafsu duniawi menuju
pencerahan dan sesuai ajaran Buddha. Selain sebagai tempat wisata, juga berfungsi
sebagai tempat mengembangkan ilmu pengetahuan dan sejarah Dapat dijadikan
sebagai tempat penelitian matematika, seperti menghitung stupa
Dalam perjalanannya peziarah berjalan melalui penasaran
Lorong dan tangga dengan menyaksikan 1.460 relief yang terukir pada dinding
batu candi.


Komentar
Posting Komentar